Gitar, Musiknya dan Keris

Lengkapnya, I Gusti Ngurah Ketut Riwiyana. Lebih dikenal sebagai Ketut Riwin. Bli Riwin adalah putra keempat dari 6 bersaudara, pasangan IGP Riyasse dan DAK Suwitri. Ia saat ini adalah musisi, penggubah lagu dan menekuni spiritualisme, ia juga hingga saat ini adalah pemangku adat di Bali (pemimpin agama).

NewsMusik mengenalnya sudah sekian lama. Antara lain, tentu saja lewat keterlibatannya dalam vokal grup legendaris, Pahama yang asal Bandung. Ia memang pernah bermukim sekian waktu di kota kembang, niat awalnya untuk kuliah. Ia mengambil jurusan biologi.

Karena sejak awal di Bandung, ia memang sudah lumayan sibuk dengan musik, karena Pahama saat itu lumayan populer bahkan tak hanya sebatas di Bandung saja. Maka dengan sangat terpaksalah, kuliahnya tak mampu diselesaikannya.

Saat di Bandung, ceritanya, ia juga belajar musik jazz dengan John Pattirane. Guru jazznya itu adalah ayah dari personil Pahama, Raymond Pattirane. Eh inget kan dengan Pahama? Salah satu lagu yang mengangkat tinggi nama mereka adalah ‘Kidung’ dari Lomba Cipta Lagu Remaja radio Prambors Jakarta, di sekitar 1978 dulu. Mereka adalah juara pertama untuk kategori vokal grup pada Bintang Radio dan Televisi di tahun 1976.

Kidung sejatinya dibawakan terutama oleh duet sepasang kekasih, waktu itu masih pacaran, Bram Manusama dan Dianne Carruthers. Nah Bram adalah motor dari Pahama, dimana Pahama pada lagu karya Chris Manusama itu menjadi vokal latar. Belakangan Dianne pun ikut mendukung Pahama. Sebagai kelompok vokal, dengan gitarnya, mereka sempat menghasilkan beberapa album rekaman. Yang diantaranya di produksi dan diedarkan label rekaman milik kelompok vokal senior Bandung, Bimbo.

Sekedar informasi, Pahama dulu memang salah satu vokal grup yang cukup menonjol. Musiknya terkesan sederhana, akustik, santai. Suara gitar akustik nan bening mengiringi paduan vokal apik dari para personilnya antara lain pada awalnya juga ada Denny Hatami, Ari Malibu. Di era itu, vokal grup memang sedang nge-trend di kalangan pelajar dan mahasiswa. Ada salah satu vokal grup lain yang sangat populer waktu itu, bahkan sampai sekarang, Chaseiro.

Dari Bandung, ia kembali ke Denpasar, Bali. Saat Pahama sudah non-aktif, teristimewa setelah Bram Manusama hijrah ke Australia mengikuti sang istri, Dianne Carruthers, setelah mereka akhirnya menikah resmi. Sekembalinya ke kampung halamannya, Riwin lantas menjadi pemangku. Namun karir musiknya tetap diteruskannya.

Perihal bermain gitar, bli Riwin mengaku ia belajar dengan gitar pinjaman temannya. Belajar otodidak saja. Suatu ketika ia bertemu seorang asal Inggris, yang mengajarkannya gitar flamenco. Hanya sempat 2 minggu, karena orang Inggris itu harus menuju ke Spanyol, memperdalam gitar flamenco-nya. “Pelajaran secara singkat itu, sudah cukup buatku saat itu. Saya ingat apa yang diajarkan teman dari Inggris itu. Saya jadi makin suka dengan gitar dan mulai menyukai flamenco dan musik latin.”

Pada Agustus 1990, ia membentuk kelompok musik Tropical Transit. Musik grupnya memang berorientasi pada suasana tropik. Kehangatan dan keceriaan. Lirik berkisah seputar alam, manusia. Bernuansa musik riang. Saat itu, Tropical Transit memainkan musik yang berlandaskan pada warna latin, dipadukan dengan jazz, pop, blues dan macem-macem musik.

Mereka pernah melanglang hingga Amerika Selatan dan Utara, antara lain menyinggahi Miami, Meksiko, Honduras, Kosta Rika sampai Panama! Kemudian, kelompok pimpinan Riwin ini kian populer di seantero Bali. Banyak turis-turis di Bali yang menjadi fans setia mereka. Musik mereka sangat disukai para turis, sehingga setiap konser atau kesempatan show reguler merekadi kafe-kafe di Bali, selalu penuh oleh pnonton yang sebagian besar turis mancanegara.

Sejak 2004, menurut bli Riwin, ia pun merubah konsep musik Tropical Transit. Musik kelompoknya lantas banyak menyerap suasana musik ethnic Bali dan Jawa. Ia dan grupnya melakukan banyak eksperimentasi perkawinan musik barat dan timur. Bli Riwin lantas mengatakan, “Sejak saat itulah, musik Tropical Transit menjadi lebih ke world music. Saya dan teman-teman menyukai warna itu, kita tambah bersemangat jadinya.”

Indonesia kita ini, kata bli Riwin, “Kaya dengan berbagai-bagai musik tradisi Nusantara. Kiranya kita harus bisa sama-sama mencintai kekayaan musik tradisi kita itu. Menggali dan mengangkatnya ke dunia musik internasional. Menjadi bagian dari musik global. Eksotika musik tradisi kita itu adalah warna-warna tersendiri yang khas, yang akan membuat kita bisa menembus musik internasional,” begitu harapan bli Riwin.

Dan Riwin memang berkonsentrasi pada jenis musik itu. Ia terus intens melakukan penggalian dan eksperimentasi. Alhasil, ia kemudian menelurkan karya-karya musik bernuansa world music kental yang sebagian besar juga bersuasana dance music. Ada karya-karya musiknya lewat Tropical Transit, yang juga chill out kesannya. Santai, asyik, berbau Indonesia, enak untuk dinikmati sambil bergoyang kecil.
“Musik itu adalah juga spiritual buatku. Tapi harus dengan rasa. Buatku ya, menyuguhkan musik itu sama dengan mantra. Musik saya terus berkembang dan aktif menyerap musik Nusantara. Temamusik saya, lantas banyakmengarah ke kemanusiaan. Saya sering kutak-katik musik di studio saya sendiri di rumah ini. Studio yang sempit ini,” ucapnya sambil senyum.

sumber: newsmusik.co

NM memang diundang untuk mampir di kediaman bli Riwin di Denpasar. Dimana NM diperkenalkan dengan istrinya, Marinda Affan. Dan dengan dua putri cantiknya, i Gusti Ayu Karina Mutiara, mahasiswi kedokteran dan I Gusti Ayu Karla Amanda yang mahasiswi psikologi. Kami tak sempat berjumpa dengan putra terbungsunya, I Gusti Ngurah Arya Bintang Wirawan. Juga, koleksi kerisnya dalam kamar “spiritual”nya.

Dalam kamar spiritualnya, kami bercerita banyak hal-hal menyangkut spiritualisme. Mendiskusikannya. Selain juga membahas koleksi-koleksi keris “bersejarah”nya. Saat mampir ke kediaman bli Riwin, NM ditemani Sruti Respati, pesinden dan penyanyi keroncong dan kontemporer asal Solo itu.

Menarik karena Sruti juga berasal dari keluarga dalang, yang mengenal keris sejak kecil dari sang ayah. Sementara bli Riwin sendiri juga dekat dengan tradisi pedalangan Bali, dari keluarganya. Menurutnya, salah satu kakaknya yang take care dengan pedalangan hingga saat ini.

Well, sungguh warna-warni jadinya, pertemuan akrab NM dengan Sruti Respati dan Ketut Riwin. Di ujung pertemuan, bli Riwin mengatakan, “Musik Indonesia makin maju dan tambah maju. Suasananya menyenangkan dan sehat. Ruang untuk musik yang mempunyai nafas dan suasana Indonesia, kian terbuka lebar. Saya kepengen satu ketika bisa berkolaborasi dengan Sruti juga.”

Sruti tersenyum dan mengatakan, bersedia dan menunggu kabar selanjutnya /dM

Leave a Reply